WELCOME

Selamat datang di website kami dan terima kasih untuk kunjungan anda, di kost44 ini kami mempersiapkan untuk kost-kostan dengan tempat yang nyaman...

Executive Room

Untuk type kamar selanjutnya adalan Type Executif Room dengan spesifikasi Sbb: ukuran kamar 4X5M Ac dan kamar Mandi di dalam TV LED lg 24" Free wifi Cuci setrika 2 stel/Hari Wather heater kulkas Mini Bar...

Single Room

Kwitang Kost terdiri dari tiga type kamar salah satu nya type reguler dengan spesifikasi sbb: Ukuran kamar 2 X 3 M Ac kamar mandi di dalam kamar...

Kwitang Kost

Kwitang Kost terdiri dari tiga lantai yang terdiri dari 22 kamar untuk lantai satu ada pegadaian persero yang juga sewa pada kami dan ruang resepsionis untuk penerima tamu dan kantor staf kwitang kost...

Taman Dan Dapur

Untuk memberikan kenyaman, kami menyediakan dapur yang terletak di dak atas dengan taman hijau terbuka untuk bersantai menghilangkan kejenuhan setelah beraktivitas seharian...

Senin, 19 Desember 2016

WELCOME


W E L C O M E
Selamat datang di website kami dan terima kasih untuk kunjungan anda, di kost44 ini kami mempersiapkan untuk kost-kostan dengan tempat yang nyaman dan fasilitas yang komplit untuk aktivitas anda sehari harinya, diantaranya AC,Wifi ,Tv Cable (internet First Media).
  • Untuk memberikan kenyaman, kami menyediakan dapur yang terletak di dak atas (Balkon) dengan taman hijau terbuka untuk bersantai menghilangkan kejenuhan setelah beraktivitas seharian.Mata anda di manjakan dengan pemandangan kota jakarta dari ketinggian apalagi di malam hari suasananya sangat menyenangkan.

  • Jumlah Kamar: 20
  • Sekamar Boleh Berdua: Ya ,Dikenakan biaya Tambahan: Rp 500.000
  • Tempat Kost Untuk: Wanita / Pria / Suami-Istri (Karyawan/ti)
  • Mayoritas Penghuni: PNS / Swasta / Expatriate
  • Ada parkir untuk motor dan mobil ,untuk motor tidak dikenakan biaya(free)
  • Sedangkan mobil dikenakan biaya Rp 200.000 sebulannya
  • Access card, personalized key lock
  • Untuk bagi yang merokok,diperbolehkan diruang tamu dan di balkon atas
Type dan Ukuran kamar:
1.Type Executive Room ukuran kamar 4X5M
Ac dan kamar mandi di dalam
TV LED LG 24"
Free wifi
Cuci setrika 2 stel/Hari
Water heater
kulkas Mini Bar
Harga=Rp.2.550.000
Listrik dengan top up sendiri masing masing penyewa kamar

2.Type Reguler Room ukuran kamar 3 X4 M
Ac dan kamar mandi dalam kamar
Tv LED LG 24"
Cuci setrika baju 2 stel / hari
Free wifi
Harga =Rp.2.250.000
Listrik dengan top up sendiri masing masing penyewa kamar

3.Type Single Room ukuran kamar 2 X 3 M
Ac kamar mandi di dalam kamar 
Tv Led LG 24 "  
Cuci setrika baju 2 stel / hari
Free Wifi
Harga :Rp.1.750.000.
Listrik dengan top up sendiri masing masing penyewa kamar

Lokasi kost-kostan kami dekat dengan supermarket indomaret,Pasar Traditional,maupun bank diantaranya Bca ,Cimb Niaga, Bni dan Mandiri.
SEGERALAH HUBUNGI KAMI , DAN KAMI TUNGGU KEDATANGAN ANDA

WASALLAM:
Kwitangkost.com
KOST 44

Polisi: Uang Rupiah Baru Punya 17 Pengaman

Jakarta - Bank Indonesia hari ini merilis desain rupiah yang baru. Polisi menyambut baik desain uang dengan 17 pengaman ini.

"Polri menyambut baik uang rupiah baru, dalam hal ini telah ada 17 item yang memperkuat pengamanan yang dilakukan BI dalam mencetak uang baru," ungkap Kabag Penum Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Martinus Sitompul, di kantornya, Jl. Trunojoyo, Jakarta Selatan.

Dari 17 item yang memperkuat pengamanan uang palsu, Martinus hanya menyebutkan dua item sebagai contoh. Yaitu warna dan tinta yang disembunyikan.

"Misalnya soal warna, soal warna itu sama sekali berubah. Kemudian tinta yang disembunyikan, sekarang ada dua yang bisa dilihat hanya dengan sinar ultraviolet. Pencegahan terhadap pembuatan uang palsu ini bisa lebih terantisipasi," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Bank Indonesia (BI) menerbitkan 11 uang rupiah desain baru. Uang desain baru ini terdiri dari tujuh pecahan uang kertas dan empat pecahan uang logam.

Golestan Palace, Inilah Istananya Raja-Raja Persia


Traveling ke Teheran, ibukota Iran, wajib rasanya berkunjung ke Golestan Palace. Inilah istana yang menjadi kediaman raja-raja Persia di masa kejayaannya.

Saat backpacker-an, panduan saya dalam menyusun rencana perjalanan sebagian besar diambil dari Tripadvisor dan beberapa website yang muncul di daftar teratas dalam mesin pencari. Nah, beberapa review tentang Kota Teheran, ibukota negara Iran, menyebut Golestan Palace masuk ke dalam daftar tempat yang harus dikunjungi jika ke Teheran. Begitu sampai disana, tidak heran kenapa tempat ini masuk dalam daftar tersebut.

Golestan Palace sebenarnya pada jaman dahulu adalah istana raja. Mirip dengan keraton kalau di Indonesia. Sebagai orang Solo yang familiar dengan keraton, cukup takjub juga melihat Golestan Palace, karena temboknya dipenuhi dengan berbagai ornamen bergaya persia.

Pernah melihat keindahan pola karpet Persia? Nah, bayangkan saja kalau karpet tersebut dipajang di seluruh tembok luar rumah Anda. Tidak ada pola yang kelihatan sama persis. Sepertinya karena memang sebagian dilukis satu persatu.

Dibangun pada tahun 1524 saat pemerintahan Raja Tahmasp I, Golestan Palace sebenarnya adalah bagian utama dari Citadel (tembok atau benteng utama yang mengelilingi pusat kota). Kini setelah era modern, Golestan Palace menjadi semacam museum tempat menyimpan benda-benda berharga dari era Iran masih dipimpin sistem monarki, bahkan sudah diakui sebagai World Heritage oleh UNESCO.

Uniknya, sebagai sebuah istana raja, tata bangunan di sekitar Golestan Palace benar-benar mirip dengan keraton di Indonesia lho. Di setiap keraton, anda akan selalu mendapati ada alun-alun besar di depannya, pasar besar, dan sebuah masjid. Jika di Keraton Kasunanan Solo, alun-alunnya adalah Alun-Alun Solo, Masjid Agung Solo, dan Pasar Gede Solo. Begitu juga di Golestan Palace.

Di depannya ada sebuah alun-alun, pasar bernama Grand Bazar (mirip dengan Grand Bazar nya Turki) dan Masjid Imam Khomaeni. Apa memang standar bangunan kerajaan jaman dulu seperti itu atau bagaimana saya juga kurang tahu.

Di alun-alun, Anda akan banyak menemui warga Iran yang sedang menikmati hari dengan bersantai atau beristirahat di taman. Banyak sekali warung makan, jajanan, restoran dan street food yang bisa ditemui di area ini, sehingga tidak perlu kuatir jika ingin wisata kuliner.

Bahkan saat saya ke Golestan Palace pada jam makan siang, banyak sekali orang yang menikmati makan sambil duduk-duduk di bangku taman. Sugguh suasana yang nyaman. Ada pizza yang antrian untuk membelinya saja sampai mengular panjang di tempat ini.

Menuju Golestan Palace sangatlah mudah karena bangunannya mencolok. Jika sudah ke sini, sempatkanlah juga mampir ke Grand Bazaar karena berada di dalam satu lokasi. Grand Bazaar menyediakan karpet Persia asli yang harganya super mahal, tetapi sangat bagus kualitasnya. Cukup turun di Stasiun Panzdah E-Khordad, jalan kaki 50 meter, Anda pasti sudah bisa melihat bangunan megah ini dari kejauhan.

Tetapi ada juga berbagai souvenir murah yang bisa dibeli untuk oleh-oleh. Untuk menikmati Golestan Palace dari luar, tidak perlu membeli karcis masuk. Tetapi jika ingin masuk ke dalamnya, ada konter penjualan tiket di bagian pintu masuknya.

Sayangnya, di dalamnya tidak boleh mengambil foto atau video. Jadi jika Anda hanya punya sedikit waktu buat jalan-jalan ke Teheran, sempatkanlah mampir ke Golestan Palace, dan nikmati keindahan karpet persia dalam bentuk bangunan arsitektur.

Ironi Galeri di Kota Medan Mulikultural

Di mana mencari galeri rupa di kota ini? Begitu pertanyaan teman dari Yogyakarta kepada penulis beberapa waktu lalu.Beberapa nama penulis sebut, termasuk Simpassri, yang terletak di Jalan Teratai simpang Jalan Letjend Suprapto, Medan. Mendengar Simpassri, teman itu langsung terperanjat. Ia mengaku sudah lama tak mendengar kabar galeri ini. Padahal galeri ini di tahun-tahun 80-an, begitu populer. Namanya sampai terdengar di Yogyakarta. Beberapa pelukis besar penah menggelar pameran di galeri ini. Sebut saja Afandi maupun Basuki Abdullah.

Bukan berlebihan bila teman saya ini sampai terkejut. Publik seni tahu di Indonesia tahu persis bagaimana populernya Galeri Simpassri. Di masanya, merupakan kebanggaan sekaligus prestasi bagi pelukis yang berpameran di galeri ini. Tidak hanya tempat pameran, Simpassri juga wadah bagi para peminat seni rupa, khususnya lukis. Baik para kolektor maupun orang-orang yang mau belajar melukis.

Sayangnya, eksistensi galeri ini tak mampu dipertahankan. Setidaknya sejak 15 tahun belakangan, galeri ini mengalami surut yang cukup drastis. Jangankan menghadirkan pelukis ternama, sekedar menggelar pameran para pelukis yang ada di Medan saja, terbilang jarang. Sejak itu kegiatan-kegiatan yang berlangsung di galeri ini sering berjalan tanpa publikasi. Serta cenderung eksklusif.

Baru pada akhir Agustus lalu, galeri ini kembali mulai menggeliat. Sejumlah pelukis menggelar pameran bersama yang bertajuk "Pulang ke Rumah". Mereka antara lain, S Handono Hadi, Togu Sinambela, M Yatim, Bambang Sukarno, Mangatas Pasaribu, Rasinta Tarigan, dan seniman lainnya.

Pameran dibuka oleh Kepala Museum Sumatera Utara Sri Hartini, berlangsung seminggu. Sejak 30 Agustus-5 September 2016.

Turut hadir dalam pameran itu, antara lain Ketua Komisi B DPRD Sumut Sopar Siburian, Pemimpin Redaksi Medan Bisnis, Bersihar Lubis, Direktur Utama Bank Sumut Edie Rizliyanto, Ketua Dewan Kesenian Medan (DKM) Rianto Aghly dan undangan lainnya.

Kevakuman Simpassri selama ini juga diakui Ketua Umum Simpassri Sumut, Anang Sutoto, saat pameran itu berlangsung.

Karenanya tema "Pulang ke Rumah" merupakan sebuah ajakan untuk para perupa, khususnya pelukis, yang selama ini berkiprah di luar. Kondisi itulah salah satunya yang membuat sepi kehidupan seni rupa di Kota Medan.

Hidup Mati Galeri di Medan
Di tahun 80 sampai 90-an, ada beberapa galeri yang terbilang aktif menggelar event seni. Selain Simpassri juga ada Galeri Tong Sampah di Jalan Juanda. Campur tangan dua bersaudara mendiang Ben M Pasaribu dan Mangatas Pasaribu, berjasa dalam menghidupkan galeri ini.

Sayang, kejayaan itu mesti berakhir di awal tahun 2000. Bisa dibilang tak ada lagi aktivitas yang bombastis, sejak tahun 2000. Kondisi itu membuat para perupa angkatan 2000 ke atas, linglung. Mereka kehilangan tempat untuk karya-karyanya.

Sempat ada Galeri Tondi di Jalan Keladi Buntu, Medan. Galeri ini dibuka oleh Grace Siregar sejak 2004 dan kemudian diperkenalkan kepada publik sejak tahun 2005.

Grace adalah seorang perupa yang telah malang melintang di berbagai negara. Ia pulang saat mendengar hidup seni rupa yang kritis di kampung halamannya.

Galeri Tondi menjadi harapan tidak hanya bagi para perupa. Seniman lintas genre antara lain musisi, sastrawan, tari, foto juga ikut nimbrung di galeri ini.

Hampir semua seniman Medan pernah naik panggung di galeri ini. Termasuk dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Solo dan dari negara tetangga.

Galeri ini seolah menjadi pelampiasan para seniman yang butuh ruang. Hampir setiap hari ada kegiatan di galeri ini.

Apakah pameran rupa, tari, musik, sastra atau sekedar diskusi kesenian. Kebesaran hati Grace sebagai penyedia tempat tanpa memungut biaya, menjadi daya tarik tersendiri.

Sayangnya galeri ini juga tak bertahan lama. Sekitar 5-6 tahun kemudian, galeri ini pun tutup. Beredar kabar, penyebabnya adalah masalah ekonomi.

Grace kembali meninggalkan Medan dengan haru biru yang menyertainya.

Para perupa, umumnya mahasiswa yang belum sempat puas berpameran di galeri ini, kembali kehilangan induk. Beberapa di antara mereka, Anal, Adie Damanik dan kawan-kawan, berinisiatif meneruskan semangat Galeri Tondi.

Mereka mendirikan Galeri Sahala yang bermarkas di salah satu ruko di Padang Bulan. Konon ada orang yang bersedia memberi mereka tumpangan di lantai atas. Tapi itu juga tak lama. Galeri Sahala juga bubar. Terbersit kabar, pemilik gedung ingin memberdayakan ruang 4x5 itu untuk bisnis.

Kembali para perupa ini linglung. Akhirnya mereka menyulap kos mereka menjadi galeri. Halaman yang sempit dijadikan panggung terbuka. Dinding kamar mereka jadikan kanvas. Kamar mereka dijadikan galeri tempat mereka memajang karya-karyanya. Mereka menamai dirinya komunitas "Sotardok".

"Sotardok" adalah bahasa Batak Toba, yang berarti "tak terbilang".

Seiring waktu, komunitas beserta galeri "Sotardok" bubar. Sebagian perupa yang sudah tamat kuliah banting setir. Ada yang menjadi karyawan Indomaret, sales dan agen asuransi.

Selebihnya menjadi guru untuk semua bidang studi. Hanya sedikit sarjana rupa itu yang meneruskan keseniannya.

Kini selain di Taman Budaya Sumatera Utara, di Medan hanya tinggal Galeri Payung Teduh. Lokasinya berhadap-hadapan dengan Medan Plaza. Sesekali ada anak sekolah yang belajar melukis di galeri yang dikelola Togu Sinambela dan kawan-kawannya.

Sementara pelukis Johnson Pasaribu yang ikut membidani galeri ini, memilih merintis di tempat tinggalnya, Tanjung Morawa. Kabarnya ia kerap memanfaatkan Balai Desa untuk berpameran dan menggelar workshop. (jones gultom)

Pakai Ponsel 5,5 Jam Sehari, Orang Indonesia "Ngapain" Saja?

Riset mendapati rata-rata orang Indonesia ternyata menghabiskan waktu berjam-jam bersama smartphone di genggaman. Kenapa dan buat apa saja?

“Orang (Indonesia) menghabiskan waktu sampai 5,5 jam per hari di hadapan smartphone," sebut Regional Director, Digital GFK Asia, Karthik Venkatakrishnan di acara Social Media Week 2016.

Kalimat itu datang berdasarkan hasil penelitian lembaga riset GFK mengenai perilaku pengguna internet di Indonesia. Salah satu temuannya adalah yang dikemukakan oleh Kathik tadi.

Dalam riset itu dijelaskan bahwa kegiatan pengguna memang tak selalu online. Aktivitas seperti mengirim pesan, mencatat sesuatu, dan membuka kalendar mungkin saja dilakukan. Namun, yang pasti, semua hal itu dilakukan dengan smartphone.

Penelitian yang dilakukan GFK adalah hasil observasi lima wilayah di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Bodetabek, Bandung, Surabaya, dan Semarang, pada periode Oktober-November 2015.

Hasilnya, mayoritas orang mengakses internet rata-rata berusia di atas 13 tahun dan menggunakan smartphone.

Jumlah orang yang memakai smartphone mencapai 93 persen dari populasi pengguna internet. Jumlah ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan penggunaan tablet dan komputer desktop.

"Pengguna tablet hanya mencapai angka 5 persen. Sementara pengguna desktop juga masih di angka 11 persen," tambah Karthik.

Cerminan hal itu berdampak pada jumlah penjualan smartphone yang pada rentang waktu tersebut mencapai 33 juta unit.

Mengatasi kebosanan

Pertanyaannya, kenapa orang Indonesia punya kelekatan sedemikian erat dengan ponsel pintar? Smartphone terlihat sudah menjadi bak oase, penghiburan di tengah padatnya aktivitas orang di kota-kota besar.

Saat berada di transportasi umum atau antrean belanjaan, misalnya, para pengguna smartphone dapat menyisihkan waktu untuk membaca e-book atau berita, membuka aplikasi hiburan, menonton film streaming, bermain game, mendengarkan musik, atau bahkan hanya chat dengan teman.


Oleh karenanya, bagi kebanyakan pengguna ponsel pintar saat ini yang penting adalah fitur di dalamnya. Berbeda dengan ponsel feature, smartphone bisa diisi beragam fitur, aplikasi, atau konten sesuai kebutuhan dan keinginan pengguna.

Lalu bagaimana perilaku penggunanya, terutama soal konten?

Penelitian yang dirilis GFK menemukan variasi topik dan konten yang diakses berdasarkan usia. Pengguna di kelompok usia 13-22 tahun, misalnya, lebih suka berita hiburan, hobi, lalu fashion, dan kecantikan.

Sementara kelompok usia 23-32 tahun cenderung menyukai topik bisnis dan ekonomi, traveling, serta hobi. Selanjutnya, kelompok usia 33-42 tahun ditemukan lebih banyak mengonsumsi topik sosial dan religi.

Sementara itu, kelompok usia di atasnya, 43-52 tahun, cenderung mengutamakan topik religi. Barulah setelah itu mereka beralih pada topik lain seperti sains dan teknologi, politik, edukasi, serta sosial.

"Di sini terlihat bahwa semakin tua usia seseorang, maka akan beralih ke topik yang lebih berat dan serius. Misalnya, religi," ujar Karthik.

Nah, akhirnya dalam memilih smartphone pun pengguna punya kriteria. Lagi-lagi, kriteria itu berhubungan dengan apa yang paling bisa menunjang kebutuhan untuk fitur, konten, dan aplikasi.

Masyarakat kota dengan waktu sempit, misalnya, cenderung menimbang kriteria seperti kapasitas besar untuk baterai dan RAM, penyimpanan yang longgar, dan fitur khusus terkini bawaan smartphone.

Karena keseluruhan spesifikasi dapat menentukan performa smartphone saat digunakan nanti, pemilihan kriteria tersebut akan jadi pertimbangan pertama saat mencari ponsel baru.

Kabar baiknya, sekarang ada smartphone dengan kemampuan yang dapat menjawab beragam tantangan semacam itu. Samsung Galaxy On7, misalnya.

Dengan kapasitas RAM 1,5 GB, aktivitas multitasking dan pengunduhan aplikasi dengan data tinggi sudah bisa dijalankan tanpa perlu khawatir lemot atau tersendat.

Ponsel ini sudah dipasangi prosesor grafis seri Mail-T720 sehingga memungkinkan pengguna bermain game yang mensyaratkan kemampuan grafis tinggi.

Untuk fitur bawaan, pengguna yang memiliki hobi foto sudah bisa mengandalkannnya menjadi alat dokumentasi harian dengan resolusi kamera belakang 13 MP dan kamera depan 5 MP.

Koneksi internet pun tak akan membosankan karena sudah mampu berjalan di jaringan 4G LTE. Terlebih lagi, membeli smartphone ini otomatis akan mendapat gratis kuota Indosat Ooredoo 12 GB dengan tambahan 1 GB akses Spotify.

Pilihan lain, pengguna ponsel ini berpeluang pula mendapatkan JBL MIcrowireless Speaker selama masa promosi. Catat, semua peluang tawaran tersebut bisa didapat mulai 2 Desember 2016

Dampak Penganiayaan yang Dialami Anak Bisa Terbawa Sampai Kelak Dewasa

Jakarta, Tumbuh kembang yang pesat di masa anak-anak sebaik mungkin harus dimanfaatkan oleh orang tua dengan memberi asupan dan stimulasi yang cukup. Tujuannya agar potensi anak dapat berkembang secara maksimal dan ia tumbuh menjadi individu yang sehat berkualitas.

Namun, ketika anak tidak diberi asupan dan stimulasi tersebut atau lebih buruk lagi malah mendapat penganiayaan, studi melihat dampak buruknya akan terus terbawa hingga dewasa. Hal tersebut terbukti setelah peneliti dari University College London melihat data dari 8.076 orang yang lahir di tahun 1958.

Pemimpin studi Dr Snehal Pinto menjelaskan bahwa ia menganalisa data-data responden hingga berusia 50 tahun. Hasilnya diketahui mereka yang saat masih anak-anak mengalami bentuk penganiayaan, 70 persen lebih mungkin memiliki penyakit kronis dan tidak memiliki rumah sendiri di usia senjanya.

Ketika responden mengalami lebih dari satu bentuk penganiayaan, maka kemungkinan tersebut menurut peneliti dalam laporannya jurnal Pediatrics bisa bertambah dua kali lipat.

"Temuan kami memberikan bukti bahwa anak yang teraniaya akan tumbuh menghadapi kerugian sosial
-ekonomi. Ini penting karena dengan kerugian tersebut pada akhirnya bisa memengaruhi kesehatan individu dan anaknya kelak," kata Dr Pinto seperti dikutip dari BBC, Senin (19/12/2016).

Lebih rinci Dr Pinto menjelaskan bahwa anak yang terlantar atau mengalami penganiayaan cenderung memiliki kemampuan membaca dan matematika yang lebih buruk dibanding anak lain seusianya. Saat dewasa hal ini berarti akan memengaruhi kemampuannya mencari pekerjaan.

"Selain menggarisbawahi pentingnya mencegah penganiayaan anak, studi kami juga mengidentifikasi buruknya kemampuan membaca dan matematika kemungkinan besar menjadi faktor penghubung situasi dewasa yang buruk," pungkas Dr Pinto.