Di mana mencari galeri rupa di kota ini? Begitu pertanyaan teman dari Yogyakarta kepada penulis beberapa waktu lalu.Beberapa nama penulis sebut, termasuk Simpassri, yang terletak di Jalan Teratai simpang Jalan Letjend Suprapto, Medan. Mendengar Simpassri, teman itu langsung terperanjat. Ia mengaku sudah lama tak mendengar kabar galeri ini. Padahal galeri ini di tahun-tahun 80-an, begitu populer. Namanya sampai terdengar di Yogyakarta. Beberapa pelukis besar penah menggelar pameran di galeri ini. Sebut saja Afandi maupun Basuki Abdullah.
Bukan berlebihan bila teman saya ini sampai terkejut. Publik seni tahu di Indonesia tahu persis bagaimana populernya Galeri Simpassri. Di masanya, merupakan kebanggaan sekaligus prestasi bagi pelukis yang berpameran di galeri ini. Tidak hanya tempat pameran, Simpassri juga wadah bagi para peminat seni rupa, khususnya lukis. Baik para kolektor maupun orang-orang yang mau belajar melukis.
Sayangnya, eksistensi galeri ini tak mampu dipertahankan. Setidaknya sejak 15 tahun belakangan, galeri ini mengalami surut yang cukup drastis. Jangankan menghadirkan pelukis ternama, sekedar menggelar pameran para pelukis yang ada di Medan saja, terbilang jarang. Sejak itu kegiatan-kegiatan yang berlangsung di galeri ini sering berjalan tanpa publikasi. Serta cenderung eksklusif.
Baru pada akhir Agustus lalu, galeri ini kembali mulai menggeliat. Sejumlah pelukis menggelar pameran bersama yang bertajuk "Pulang ke Rumah". Mereka antara lain, S Handono Hadi, Togu Sinambela, M Yatim, Bambang Sukarno, Mangatas Pasaribu, Rasinta Tarigan, dan seniman lainnya.
Pameran dibuka oleh Kepala Museum Sumatera Utara Sri Hartini, berlangsung seminggu. Sejak 30 Agustus-5 September 2016.
Turut hadir dalam pameran itu, antara lain Ketua Komisi B DPRD Sumut Sopar Siburian, Pemimpin Redaksi Medan Bisnis, Bersihar Lubis, Direktur Utama Bank Sumut Edie Rizliyanto, Ketua Dewan Kesenian Medan (DKM) Rianto Aghly dan undangan lainnya.
Kevakuman Simpassri selama ini juga diakui Ketua Umum Simpassri Sumut, Anang Sutoto, saat pameran itu berlangsung.
Karenanya tema "Pulang ke Rumah" merupakan sebuah ajakan untuk para perupa, khususnya pelukis, yang selama ini berkiprah di luar. Kondisi itulah salah satunya yang membuat sepi kehidupan seni rupa di Kota Medan.
Hidup Mati Galeri di Medan
Di tahun 80 sampai 90-an, ada beberapa galeri yang terbilang aktif menggelar event seni. Selain Simpassri juga ada Galeri Tong Sampah di Jalan Juanda. Campur tangan dua bersaudara mendiang Ben M Pasaribu dan Mangatas Pasaribu, berjasa dalam menghidupkan galeri ini.
Sayang, kejayaan itu mesti berakhir di awal tahun 2000. Bisa dibilang tak ada lagi aktivitas yang bombastis, sejak tahun 2000. Kondisi itu membuat para perupa angkatan 2000 ke atas, linglung. Mereka kehilangan tempat untuk karya-karyanya.
Sempat ada Galeri Tondi di Jalan Keladi Buntu, Medan. Galeri ini dibuka oleh Grace Siregar sejak 2004 dan kemudian diperkenalkan kepada publik sejak tahun 2005.
Grace adalah seorang perupa yang telah malang melintang di berbagai negara. Ia pulang saat mendengar hidup seni rupa yang kritis di kampung halamannya.
Galeri Tondi menjadi harapan tidak hanya bagi para perupa. Seniman lintas genre antara lain musisi, sastrawan, tari, foto juga ikut nimbrung di galeri ini.
Hampir semua seniman Medan pernah naik panggung di galeri ini. Termasuk dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Solo dan dari negara tetangga.
Galeri ini seolah menjadi pelampiasan para seniman yang butuh ruang. Hampir setiap hari ada kegiatan di galeri ini.
Apakah pameran rupa, tari, musik, sastra atau sekedar diskusi kesenian. Kebesaran hati Grace sebagai penyedia tempat tanpa memungut biaya, menjadi daya tarik tersendiri.
Sayangnya galeri ini juga tak bertahan lama. Sekitar 5-6 tahun kemudian, galeri ini pun tutup. Beredar kabar, penyebabnya adalah masalah ekonomi.
Grace kembali meninggalkan Medan dengan haru biru yang menyertainya.
Para perupa, umumnya mahasiswa yang belum sempat puas berpameran di galeri ini, kembali kehilangan induk. Beberapa di antara mereka, Anal, Adie Damanik dan kawan-kawan, berinisiatif meneruskan semangat Galeri Tondi.
Mereka mendirikan Galeri Sahala yang bermarkas di salah satu ruko di Padang Bulan. Konon ada orang yang bersedia memberi mereka tumpangan di lantai atas. Tapi itu juga tak lama. Galeri Sahala juga bubar. Terbersit kabar, pemilik gedung ingin memberdayakan ruang 4x5 itu untuk bisnis.
Kembali para perupa ini linglung. Akhirnya mereka menyulap kos mereka menjadi galeri. Halaman yang sempit dijadikan panggung terbuka. Dinding kamar mereka jadikan kanvas. Kamar mereka dijadikan galeri tempat mereka memajang karya-karyanya. Mereka menamai dirinya komunitas "Sotardok".
"Sotardok" adalah bahasa Batak Toba, yang berarti "tak terbilang".
Seiring waktu, komunitas beserta galeri "Sotardok" bubar. Sebagian perupa yang sudah tamat kuliah banting setir. Ada yang menjadi karyawan Indomaret, sales dan agen asuransi.
Selebihnya menjadi guru untuk semua bidang studi. Hanya sedikit sarjana rupa itu yang meneruskan keseniannya.
Kini selain di Taman Budaya Sumatera Utara, di Medan hanya tinggal Galeri Payung Teduh. Lokasinya berhadap-hadapan dengan Medan Plaza. Sesekali ada anak sekolah yang belajar melukis di galeri yang dikelola Togu Sinambela dan kawan-kawannya.
Sementara pelukis Johnson Pasaribu yang ikut membidani galeri ini, memilih merintis di tempat tinggalnya, Tanjung Morawa. Kabarnya ia kerap memanfaatkan Balai Desa untuk berpameran dan menggelar workshop. (jones gultom)


0 komentar :
Posting Komentar